Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label Kisah Sukses. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Sukses. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Mei 2012

Berawal dari Side Job Berbuntut pada Omzet Miliaran

Berawal dari Side Job Berbuntut pada Omzet Miliaran

Beberapa geliat entreprenuer, terlebih yang baru saja terjun ke dunia bisnis atau bahkan masih berada di taraf mencoba-coba, mempunyai kecenderungan untuk menjadikan usahanya itu sebagai side job. Kekhawatiran akan belum stabilnya bisnis yang digeluti membuat para pemain baru di dunia entrepreneurship itu enggan meninggalkan pekerjaan tetapnya. Tapi jika berjiwa entrepreneur, rasa takut yang semu itu akan lenyap dengan sendirinya dan berganti dengan passion yang kuat untuk fokus seratus atau bahkan seribu persen pada upaya untuk mengembangkan bisnis. Inilah yang dilakukan lima orang sahabat pendiri Simple Advertising.

simple-advertisingBanyak pertanyaan kerap muncul di benak calon entrepreneur yang berminat membangun kerajaan bisnisnya. Bidang apa yang patut dikelola sebagai bisnis potensial? Berapa modalnya? Butuh karyawan atau tidak? Berapa investasi untuk membayar gaji karyawan dan lain sebagainya. Pertanyaan tersebut seakan menggerogoti semangat calon pelaku usaha untuk terjun ke dunia bisnis. Tak sedikit pula dari mereka, khususnya yang masih berstatus karyawan di sebuah perusahaan enggan meninggalkan tempatnya bekerja karena tak mau mengambil resiko kehilangan sumber penghasilan bila bisnisnya tak berjalan sesuai keinginan. Akhirnya bisnis yang baru dirintisnya dikesampingkan atau hanya dijadikan side job semata.

Sebagai manusia, kekhawatiran itu wajar saja timbul apalagi bila sang entrepreneur terbentur pada kewajiban untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun bila tak ada perhatian khusus dalam mengelola sebuah bisnis niscaya usaha itu akan terbengkalai dan tak menemui kesuksesan. Hal itu turut diungkapkan pula oleh dua orang pengusaha muda yang tergolong sukses, Antonius Tunggal Pujantoro dan Jepprih Guntoro. Bersama dengan ketiga sahabat karib lainnya yakni Fendy Winarta, Endi Daniawan dan Januar Hamdi, mereka mendirikan biro iklan penyedia material yang menunjang kegiatan promosi below the line untuk corporate misalnya POS material, papan toko, produk sampling atau display product.

Mengambil nama PT. Sarana Panca Kreasi, yang bisa diartikan sebagai wadah kreatifitas lima orang pendirinya, kelima pemuda cekatan ini kemudian membangun bendera usaha bernama Simple Advertising. Awalnya, usaha itu hanya dianggap sebagai pekerjaan sampingan untuk menambah penghasilan. Skill dan wawasan seputar dunia periklanan yang diperoleh semasa bekerja menjadi bekal kelimanya dalam mengelola side jobnya tersebut yang dirintis pada sekitar tahun 2002. “Modal awal cuma Rp1,5 juta. Itu kita peroleh dari hasil menyisihkan gaji sebesar Rp50 ribu/bulan selama 5 bulan dari masing-masing orang. Uangnya dipakai untuk membeli satu set komputer dan mesin faksimile,” kenang Antonius yang sering disapa Anton ini. “Untuk kantor, kita memakai kamar Januar Hamdi di rumahnya,” lanjutnya.

Meski dengan sarana dan peralatan seadanya, kelimanya optimis bahwa bisnis advertising-nya akan berkembang dan mampu menjaring klien dari corporate besar. Kelimanya pun lalu memutuskan meninggalkan pekerjaan tetapnya dan mulai konsentrasi penuh untuk mengelola side job-nya. Dengan formasi Jepprih yang berlatar belakang pendidikan akuntansi mengurus keuangan dan selebihnya yang berlatar belakang pendidikan teknik grafika membagi job-desc sebagai berikut; Anton dan Fendy mengelola bidang produksi, Endi di bagian marketing lalu Januar bertanggung jawab di bagian desain. Berangkat dari idealisme serta mimpi yang sama, lima sekawan ini mulai melebarkan bisnis yang semula hanya sebagai usaha sampingan.

Fokus ke Bisnis
Kesadaran untuk stay focus on business timbul ketika usaha mereka menghasilkan omzet Rp2 juta pada tahun pertama bisnis berjalan. Pengorbanan untuk meninggalkan pekerjaan tetap yang dinilai memberikan kenyamanan dengan iming-iming penghasilan tetap per bulan rela dilakoni demi membangun mimpi menjadi wirausaha muda nan sukses. Konsekuensi apapun atau seberapa pun besar pendapatan yang diperoleh harus bisa diterima dengan rasa syukur mengingat semua itu demi kesuksesan di kemudian hari. Lalu apa saja kiat sukses agar bisa menjalani sebuah bisnis?

Menanggapi hal tersebut, Jepprih pun berkata, “Kalau memang ingin berbisnis jangan takut untuk melangkah.” Ia menganggap banyak calon entrepreneur yang sudah merasa pesimis terlebih dahulu sebelum menjajal lika liku dunia entrepreneurship. Takut bangkrut, takut tak bisa mengembangkan bidang usaha, takut rugi serta ketakutan-ketakutan lainnya sebaiknya tak menjadi rayap yang terus menggerogoti semangat calon pengusaha untuk berbisnis. “Hal-hal seperti itu wajib dihindari,” saran Jepprih.

Kunci utama lain agar bisa menjadi entrepreneur sukses adalah wawasan nan luas seputar bidang usaha yang akan digeluti. Jepprih mencontohkan, “Misalnya kalau ingin membuka bengkel mobil, dia (calon pengusaha) harus tahu mobil beserta onderdilnya dan sebisa mungkin mempunyai relasi untuk menunjang kemajuan bisnisnya kelak.”

Solid
Bekerja sama dengan sahabat-sahabat yang usianya tak terpaut jauh, Anton dan Jepprih membagi tips agar hubungan bisnis bisa dilakukan seprofesional mungkin dan diusahakan tidak mengganggu keeratan jalinan kekeluargaan yang sudah terbangun sejak lama. “Masing-masing individu harus punya komitmen untuk mempertahankan bisnis dan tim ini harus solid supaya bisa berkembang dan terus berkembang menjadi lebih besar lagi,” ucap Jepprih.

Diakui oleh Anton, selama mengelola bisnis biro iklan ini, dirinya dan keempat temannya jarang terlibat konflik yang mengarah pada perpecahan. Masalah yang kerap muncul justru berkaitan dengan mempertahankan kualitas produk. “Karena ini bisnis yang berhubungan dengan digital printing, jadi desain dan pewarnaan menjadi fokus utama yang harus ditonjolkan agar klien puas,” tutur Jepprih. “Dan hal itu adalah sebuah tantangan tersendiri,” lanjutnya.

Berbagi cerita mengenai omzet, Anton menjelaskan pada tahun pertama pendapatan per orang bila dibagi rata masing-masing memeroleh Rp300 ribu/bulan dari hasil proyek offset printing dan pembuatan material promo cetak lainnya. Pendapatan bulanan tertinggi diperoleh tiap-tiap individu hingga 1,5 tahun pertama adalah Rp500 ribu. Lalu perubahan menuju kesuksesan itu pun terjadi tahun 2004 ketika Simple Advertising mendapat proyek dari PT L’oreal Indonesia.

Jerih payah dan keringat mereka tergantikan dengan hasil jalinan kerja sama dari klien besar tersebut. Gedung berukuran 4x4 meter di kawasan Gunung Sahari, Jakarta Pusat bisa disewanya sebagai kantor perwalian untuk mengelola bisnis mereka dan setelah beberapa tahun me-maintain relasi yang baik dengan beberapa kliennya, biro iklan sukses meraup omzet hingga Rp3 miliar pada sepanjang tahun 2010 lalu dan mereka pun bisa menempati ruko 3 lantai sebagai kantor di bilangan Jakarta Barat. (*/ely)

sumber : http://ciputraentrepreneurship.com/bisnis/jasa/12461-simple-advertising-berawal-dari-side-job-berbuntut-pada-omzet-miliaran.html

Miuccia Prada : Desainer dengan kekayaan US$ 6,8 miliar

prada0512Menyandang nama besar keluarga Prada, Miuccia Prada memerlukan waktu lama untuk meraih sukses. Sarjana politik yang kemudian menjadi desainer ini mewarisi bisnis ketika berusia 29 tahun. Prada sempat absen dari daftar orang terkaya selama enam tahun terakhir. Namun, sejak penjualan saham perdana Prada di bursa Hong Kong, ia kembali masuk ke daftar orang terkaya sejagat versi Forbes. Ia duduk di posisi 139 dengan kekayaan US$ 6,8 miliar.

Prada kini menjadi salah satu merek fesyen top dunia. Riwayatnya dimulai hampir seabad lalu, tepatnya pada tahun 1913. Mario Prada mendirikan label Prada bersama saudara lelakinya, Martino.

Dua bersaudara ini mendirikan Prada sebagai toko peralatan yang berasal dari kulit di Galleria Vittorio Emanuele II di Milan, Italia. Dari awal, Mario membangun Prada sebagai toko mewah. Toko ini menjual berbagai barang dari kulit, tas dan koper, serta aksesori mewah dan berbagai pernak-pernik mahal.

Mario tak asal menyediakan barang. Ia menjual barang-barang yang didesain eksklusif untuk tokonya. Barang-barang tersebut merupakan barang-barang buatan tangan dengan bahan baku terbaik dan teknik tingkat tinggi.

Mario Prada bepergian ke seluruh Eropa mencari bahan baku berkualitas tinggi, serta berbagai elemen pelengkap untuk membangun produk yang mewah. Ia memproduksi koper ringan dari bahan kayu, kristal, dan bahkan kulit kerang.

Barang yang istimewa membuat Prada menjadi pusat perhatian pasar kelas atas, kelas paling elegan dan aristokrat di Eropa. Bisnis Mario Prada membesar. Ia memiliki dua toko di Milan. Kliennya berasal dari seluruh Eropa dan Amerika Serikat. Tahun 1919, Prada menjadi pemasok resmi keluarga kerajaan Italia. Bertahun-tahun, nama Prada kian menanjak dan menjadi label prestisius.

Mario adalah orang yang tidak percaya bahwa perempuan punya peran dalam bisnis. Ia pun mencegah perempuan anggota keluarganya turun menggarap bisnis. Ironisnya, anak lelakinya tak berminat meneruskan toko barang mewahnya.

Alhasil, anak perempuannya, Luisa Prada, mengambil alih kepemimpinan Prada sebagai penerusnya. Luisa menjalankan bisnis Prada selama hampir 20 tahun sebelum anaknya, Miuccia mengambil alih bisnis.

Sebenarnya, Miuccia lebih tertarik belajar politik. Ia mendapat gelar PhD bidang ilmu politik. Vogue melaporkan, Miuccia belajar pantomim selama lima tahun setelah itu. Selepas kuliah, perempuan kelahiran Milan, 10 Mei 1949 ini lebih banyak menghabiskan waktunya di partai politik ketimbang meneruskan bisnis keluarga. Ia menjadi anggota Partai Komunis. Miuccia giat memperjuangkan hak-hak perempuan di kota kelahirannya.

Tahun 1978, meski ogah-ogahan, Miuccia mengambil alih bisnis keluarga. Di saat yang sama, ia bertemu dengan Patrizio Bertelli, yang kemudian menjadi suaminya. "Kalau saya tidak bertemu dia, saya mungkin sudah menyerah, atau setidaknya tidak bisa melakukan hal-hal yang saya lakukan," kata Miuccia dalam wawancara dengan Vogue, Mei 2011.

Ketika mengambil alih bisnis keluarga Prada, Miuccia menghadapi persaingan berat dari beberapa label fesyen lain seperti Gucci. Miuccia harus memutar otak untuk menjalankan bisnis keluarga.

Bertelli adalah pebisnis asal Tuscan, Italia. Ketika itu, Bertelli menjalin bisnis berbagai produk kulit dengan Granello dan Sir Robert. Bertelli membentuk I Pelletieri D'Italia SpA (IPI) untuk mengkonsolidasi produksi dan distribusi berbagai produk yang dibangunnya selama 10 tahun terakhir. Di tahun pendiriannya itu, IPI mendapat lisensi eksklusif dari Miuccia untuk memproduksi dan mendistribusikan produk-produk kulit bermerek Prada. Pada tahun 2003, IPI dan Prada akhirnya merger.

Di tahun-tahun awal, Bertelli kerap memberi saran ke Miuccia dan Miuccia pun menjalankan saran Bertelli. Atas saran Bertelli, Miuccia menghentikan impor barang dari Inggris dan mengubah style berbagai produk tas. (*/Kontan.co.id) 

sumber : http://ciputraentrepreneurship.com/entrepreneur/internasional/intrapreneur/16922-jane-moran-sang-penanggung-jawab-bisnis-reuters.html

Jane Moran : 55 ribu pekerja dari 100 negara

Sebagai Global Chief Information Officer (CIO), Jane Moran mengawasi sistem bisnis Thomson Reuters. Ia menjual informasi ilmiah, hukum, bisnis keuangan, pasar media dan mempekerjakan 55 ribu pekerja di lebih dari 100 negara. Moran mengambil peran di Reuters pada 2008 ketika Thomson Corporation merger dengan Reuters.

Moran juga kini juga menjabat sebagai anggota Center for Digital Strategies di Dartmouth College Tuck School of Business serta bekerja sebagai CIO Council untuk salesforce.com, Workday dan Oracle.

Keputusan Moran terjun ke teknologi karena peran ayahnya. Semasa sekolah ia sering menghabiskan waktu di laboratorium matematika ayahnya yang menjadi dosen di Ohio State University. Kini ia memanfaatkan kariernya di bidang teknologi untuk menciptakan peluang bisnis yang lebih besar demi mendukung kemajuan perempuan lain yang bekerja di dunia teknologi.

Jane mendapatkan gelar MBA dari Boston University dan gelar BA dari Brown University dimana saat ini ia menjadi anggota Dewan Penasihat Teknologi Komputer dan Informasi.

Jangkauan global
Sebagai Global CIO, Moran bertanggung jawab untuk semua sistem bisnis Reuters. Sementara rekannya CTO James Powell mendorong pengembangan produk dan bertanggung jawab atas data center dan jaringan.

Thomson Reuters sendiri jaringannya ada di lebih 100 negara, Moran pun harus memiliki garis komunikasi baik dengan pemimpin senior."Dalam perusahaan besar kita mengandalkan surat elektronik. Tetapi jika komunikasi dengan kolaborasi orang sebagai alat, kebutuhan surat elektronik akan berkurang. Sebab saya letih dengan surat elektronik dan pertemuan. Oleh karena itu kami selalu mengadakan percakapan mengalir secara bebas dan dinamis agar tercipta kreativitas," ujarnya seperti dilansir cio.co.uk. (*/mediaindonesia.com)

sumber : http://ciputraentrepreneurship.com/entrepreneur/internasional/intrapreneur/16922-jane-moran-sang-penanggung-jawab-bisnis-reuters.html

Mallory Kievman : 13 tahun, pemilik Perusahaan Permen

Setiap orang pernah merasakan cegukan, namun banyak orang yang masih bertanya-tanya bagaimana cara menghentikannya dalam sekejap. Remaja 13 tahun ini memberi solusi unik untuk menyembuhkan cegukan, yaitu dengan permen lollipop.

Pembuatan permen ini bermula saat Mallory Kievman mengalami cegukan musim panas 2010. Saat itu, Kievman mencoba berbagai cara untuk menghentikannya, mulai dari menenggak air garam, dikejutkan oleh temannya, menelan sesendok gula, sampai minum air sambil jungkir balik, semuanya tidak berhasil.

Gemas karena tak juga menemukan cara untuk menghentikan cegukan, Kievman melakukan eksperimen selama dua tahun hingga akhirnya terciptalah Hiccupops.

Seperti diberitakan Oddity Central, Hiccupops lahir di dapur rumahnya sendiri di Connecticut, AS. Kievman mencampurkan permen lollipop, cuka apel, dan gula, hingga menghasilkan Hiccupops, yang diambil dari kata hiccup dan lollipop.

“Permen ini mengaktifkan syaraf-syaraf di tenggorokan dan mulut, sehingga membentuk busur saat kita cegukan. Hiccupops merangsang syaraf-syaraf itu dan menghentikan proses cegukan,” paparnya.

Setelah serangkaian eksperimen, Hiccupops pun diperkenalkan di sebuah konvensi anak. Di sanalah Kievman bertemu Danny Briere, pendiri Startup Connecticut yang kemudian membantu Kievman untuk mendirikan perusahaan sendiri.

Kini Kievman tengah merintis perusahaannya sendiri dengan dibantu tim konsultan dari University of Connecticut. Hiccupops segera diluncurkan secara resmi musim panas ini. (*/AS)

sumber : http://ciputraentrepreneurship.com/entrepreneur/remaja.html

Hamzah Izzulhaq : 18 tahun, omset 100 juta/bulan

Kisah Hamzah Izzulhaq, Entrepreneur Sukses Berusia 18 Tahun




Entrepreneur berusia 18 tahun ini tidak ingat secara pasti kapan pertama kali dirinya mulai berdagang. Namun satu hal yang pasti adalah bibit-bibit kemandiriannya telah terbentuk sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Mulai dari menjual kelereng, gambaran, petasan hingga menjual koran, menjadi tukang parkir serta ojek payung, Hamzah Izzulhaq, demikian nama entrepreneur muda ini memoles jiwa entrepreneurship-nya. Bertujuan menambah uang saku, ia melakoni semua itu di sela-sela waktu luang saat kelas 5 SD.

CIMG0180_800x600Hamzah, begitu dia sering disapa, terlahir dari keluarga menengah sederhana. Sang ayah berprofesi sebagai dosen sementara ibunda adalah guru SMP. Secara ekonomi, Hamzah tak kekurangan. Ia senantiasa menerima uang saku dari orangtuanya. Namun terdorong oleh rasa ingin Mandiri dan memiliki uang saku yang lebih banyak, Hamzah rela menghabiskan waktu senggangnya untuk mencari penghasilan bersama dengan teman-temannya yang secara ekonomi masuk dalam kategori kurang mampu.

Hamzah mulai menekuni bisnisnya secara serius ketika beranjak remaja dan duduk di bangku kelas 1 SMA. Ia berjualan pulsa dan buku sekolah setiap pergantian semester. Pemuda kelahiran Jakarta, 26 April 1993 ini melobi sang paman yang kebetulan bekerja di sebuah toko buku besar untuk menjadi distributor dengan diskon sebesar 30% per buku. “Buku itu lalu saya jual ke teman-teman dan kakak kelas. Saya beri diskon untuk mereka 10%, sehingga saya mendapat 20% dari setiap buku yang berhasil terjual. Alhamdulillah, saya mengantongi nett profit pada saat itu mencapai Rp950 ribu/semester,” aku Hamzah kepada CiputraEntrepreneurship.com.

Uang jerih payah dari hasil penjualan pulsa dan keuntungan buku kemudian ditabungnya. Sebagian dipakai untuk membuka konter pulsa dimana bagian operasional diserahkan kepada teman SMP-nya sementara Hamzah hanya menaruh modal saja. Sayangnya, bisnis itu tak berjalan lancar. Omzet yang didapat sering kali dipakai tanpa sepengetahuan dan seizin Hamzah. Voucher pulsapun juga sering dikonsumsi secara pribadi. Dengan kerugian yang diteriman, Hamzah akhirnya memutuskan untuk menutup usaha yang hanya berjalan selama kurang lebih 3 bulan itu. “Sampai sekarang etalase untuk menjual pulsa masih tersimpan di gudang rumah,” kenang Hamzah sambil tertawa.

Dengan menyimpan rasa kecewa, Hamzah berusaha bangkit. “Saya sangat suka membaca buku-buku pengembangan diri dan bisnis. Terutama buku “Ciputra Way” dan “Quantum Leap”. Sehingga itu yang membuat saya bangkit ketika rugi berbisnis,” jelasnya. Bermodal sisa tabungan di bank, Hamzah mulai berjualan pulsa kembali. Beberapa bulan kemudian, tepatnya ketika ia kelas 2 SMA, Hamzah membeli alat mesin pin. Hal itu nekat dilakoninya karena ia melihat peluang usaha di sekolahnya yang sering mengadakan sejumlah acara seperti pentas seni, OSIS dan lainnya, yang biasanya membutuhkan pin serta stiker. Dari acara-acara di sekolah, ia menerima order yang cukup besar. Tapi lagi-lagi ia harus menerima kenyataan merugi lantaran tak menguasai teknik sehingga banyak produk orderan yang gagal cetak dan mesinnya pun rusak. “Ayah sedikit marah dengan kerugian yang saya buat itu,” lanjut Hamzah.

Dari kerugian itu, Hamzah merenung dan membaca biografi pengusaha sukses untuk menumbuhkan kembali semangatnya. Tak berapa lama, ia mulai berjualan snack di sekolah seperti roti, piza dan kue-kue. Profit yang terkumpul dari penjualan makanan ringan itu sebesar Rp5 juta. Pada pertengahan kelas 2 SMA, ia menangkap peluang bisnis lagi. Ketika sedang mengikuti seminar dan komunitas bisnis pelajar bertajuk Community of Motivator and Entrepreneur (COME), Hamzah bertemu dengan mitra bisnisnya yang menawari usaha franchise bimbingan belajar (bimbel) bernama Bintang Solusi Mandiri. “Rekan bisnis saya itu juga masih sangat muda, usianya baru 23 tahun. Tapi bimbelnya sudah 44 cabang,” terangnya.

Hamzah lalu diberi prospektus dan laporan keuangan salah satu cabang bimbel di lokasi Johar Baru, Jakarta Pusat, yang kebetulan ingin di-take over dengan harga jual sebesar Rp175 juta. Dengan hanya memegang modal Rp5 juta, pengusaha muda lulusan SMAN 21 Jakarta Timur ini melobi sang ayah untuk meminjam uang sebagai tambahan modal bisnisnya. “Saya meminjam Rp70 juta dari ayah yang seharusnya uang itu ingin dibelikan mobil. Saya lalu melobi rekan saya untuk membayar Rp75 juta dulu dan sisanya yang Rp100 juta dicicil dari keuntungan tiap semester. Alhamdulillah, permintaan saya dipenuhi,” kenang Hamzah.

Dari franchise bimbel itu, bisnis Hamzah berkembang pesat. Keuntungan demi keuntungan selalu diputarnya untuk membuat bisnisnya lebih maju lagi. Kini, Hamzah telah memiliki 3 lisensi franchise bimbel dengan jumlah siswa diatas 200 orang tiap semester. Total omzet yang diperolehnya sebesar Rp360 juta/semester dengan nett profit sekitar Rp180 juta/semester. Sukses mengelola bisnis franchise bimbelnya, Hamzah lalu melirik bisnis kerajinan SofaBed di area Tangerang.

Sejak bulan Agustus lalu, bisnis Hamzah telah resmi berbadan hukum dengan nama CV Hamasa Indonesia. Lulusan SMA tahun 2011 ini duduk sebagai direktur utama di perusahaan miliknya yang omzetnya secara keseluruhan mencapai Rp100 juta per bulan. “Saat ini saya sedang mencicil perlahan-lahan modal yang saya pinjam 2 tahun lalu dari ayah. Alhamdulillaah, berkat motivasi dan Pak Ci saya sudah bisa ke Singapore dan Malaysia dengan hasil uang kerja keras sendiri,” ujarnya.

Menurut Hamzah, dari pengalamannya, berbisnis di usia muda memiliki sejumlah tantangan plus kendala seperti misalnya diremehkan, tidak dipercaya dan lain sebagainya. Hal itu dianggapnya wajar. “Maklum saja, sebab di Indonesia, entrepreneur muda dibawah 20 tahun masih amat langka. Kalau di Amerika usia seperti saya ini mungkin hal yang sangat biasa,” tutupnya. (*/ely)

Angkie Yudistia : Wanit Tunarungu yang Sukses CEO

Jakarta - Keterbatasan sebagai penyandang tunarungu tak membuat Angkie Yudistia terpuruk. Founder dan CEO Thisable Enterprise itu malah menerabas 'tembok' bernama pesimisme dan bangkit berprestasi.

Namun pencapaian sukses perempuan kelahiran Medan, 5 Juni 1987 itu tak dengan mudah dilaluinya. Melainkan penuh caci dan diskriminasi hingga pernah membuatnya depresi.

Dikisahkan, Angkie mengalami tunarungu sejak berusia 10 tahun. Meski hal itu membuatnya terguncang, namun ia dan keluarga tetap memutuskan agar dirinya menempuh pendidikan di sekolah umum.



Praktis, keterbatasan Angkie itu menimbulkan banyak masalah selama belajar di SD hingga SMA. Tak jarang ia mengaku sering kali menerima cacian dan hinaan.

"Dulu aku diledekin, dikatain budek, tuli itu sering banget di lingkungan," ungkapnya. Ketika itu, rasa malu memang membuat Angkie menutupi jati dirinya sebagai penyandang tunarungu.

"Kalau ditanya, aku bilang, nggak apa-apa kok. Alat bantu dengar aku tutupi terus pakai rambut. Tapi nggak bisa dibohongi ya, dan bikin orang curiga aku kenapa. Aku sering dipanggil nggak denger, guru ngomong, nggak dengar," sambungnya lagi.

Pernah menyalahkan kondisi? "Itu sering banget. Kenapa sih Tuhan aku harus begini? Itu pertanyaan yang sering aku ucapkan. Tapi aku mau menyalahkan siapa? Orangtuaku pun nggak pernah memperlakukan aku berbeda dengan anaknya yang lain," sahutnya.



Hingga suatu ketika, seorang bapak di kereta api menyadarkannya untuk bangkit. Singkat cerita, sejak saat itu Angkie pun mulai bisa menerima keadaan dan berusaha menemukan jati dirinya yang sesungguhnya.

Bungsu dari dua bersaudara itu pun berusaha bangkit dan mengejar ketertinggalan. Agar tak tertinggal pelajaran di sekolah, ia belajar dua kali lebih keras dari teman-temannya yang lain hingga lulus.

"Aku sadar aku sulit mengikuti pelajaran di sekolah umum. Makanya setiap pulang sekolah aku pasti les. Banyak baca buku juga. Jadi dua kali belajar dari yang lainnya dan itu aku benar-benar jalani sampai lulus," terangnya.

dilema dihadapi Angkie Yudistia saat lulus SMA. Dokter yang merawatnya menyarankan agar ia tidak melanjutkan kuliah karena stress bisa memperparah kondisi pendengarannya.

Saat itu, telinga kanan Angkie hanya mampu mendengar suara 70 desibel sedangkan yang kiri 98 desibel. Sementara, rata-rata percakapan pada manusia normal berada di 40 desibel.

"Itulah yang membuat aku divonis dokter sebagai tunarungu pas usia 10 tahun. Makanya aku bisa dengar hanya kalau pakai hearing aid (alat bantu dengar) saja," ungkap perempuan kelahiran Medan, 5 Juni 1987 itu.
Namun Angkie ngotot untuk tetap meneruskan pendidikannya. Ia kemudian kuliah dan menyelesaikan studinya di jurusan periklanan di London School of Public Relations (LSPR), Jakarta, dan lulus dengan indeks prestasi komulatif 3.5.



Tekad Angkie yang kuat dan kemauan untuk terus menggali potensi diri, membuatnya tumbuh menjadi anak yang penuh percaya diri. Semasa kuliah, ia selalu aktif dalam berbagai kegiatan positif.

Angkie tercatat sebagai finalis Abang None mewakili wilayah Jakarta Barat tahun 2008. Selain itu ia juga berhasil terpilih sebagai The Most Fearless Female Cosmopolitan 2008, serta Miss Congeniality dari Natur-e, serta berbagai perestasi lainnya.

Kecintaan Angkie di dunia pendidikan pun mengantarnya meraih gelar master setelah lulus dari bidang komunikasi pemasaran lewat program akselerasi di LSPR. "Dunia komunikasi dan public speaking memang sudah menjadi passion aku," katanya seraya tersenyum.

Pemilik tinggi 170cm dan berat 53kg itu pernah pula bekerja sebagai humas di beberapa perusahaan. "Tapi bukan berarti aku nggak pernah ditolak kerja ya, sudah sering banget. Alasannya karena waktu mereka tahu aku tunarungu dan nggak bisa pakai telepon," kisahnya.

Pengalaman Angkie didiskriminasi itu kemudian memotivasinya untuk membuat Thisable Enterprise bersama rekannya. Perusahaan itu fokus pada misi sosial, khususnya membantu orang yang memiliki keterbatasan fisik alias difable (Different Ability People) seperti dirinya.



"Ketika aku sekarang sudah nyaman dengan diri aku sediri, sekarang giliran aku untuk membantu orang yang sama seperti aku dulu. Membantu menyadarkan orang juga agar jangan mendiskriminasi kami," tukasnya.

Kepedulian pemilik tinggi 170cm dan berat 53kg itu tak berhenti sampai di situ. Berbagai pengalaman hidupnya mencari jati diri kemudian dituangkannya lewat buku berjudul 'Invaluable Experience to Pursue Dream' (Perempuan Tuna Rungu Menembus Batas) akhir 2011 lalu.

Sosok Angkie dan segudang prestasinya itu menunjukkan bahwa setiap orang, bahkan yang punya cacat fisik sekalipun bisa jadi luar biasa. "Keterbatasan bisa jadi kelebihan. Setiap masalah pasti ada jalan keluar asal ada kemauan," ucapnya.

Lantas, masih adakah penyesalan sebagai penyandang tunarungu? "Nggak. Sekarang nggak ada yang aku tutup-tutupin lagi. Aku cukup bangga dilahirkan seperti ini. Aku memang beda, tapi aku yakin ada maksud dan tujuan Tuhan kenapa aku seperti ini," tandasnya.

sumber : hot.detikhot.com

Jumat, 11 Mei 2012

Adam Khoo : SD dikata bodoh, sekarang punya omset 20 juta USD

       

         Ada satu cerita tentang orang Singapura yang bernama Adam Khoo. Pada umur 26 tahun dia mempunyai empat bisnis yang beromzet US$ 20juta. Ketika umur 12 tahun Adam dicap sebagai orang yang malas, bodoh, agak terbelakang dan tidak ada harapan. Ketika masuk SD, dia benci membaca; maunya hanya main game computer dan nonton TV. Karena tidak belajar, banyak nilai F yang membuat dia semakin benci kepada gurunya; benci belajar, bahkan juga benci terhadap sekolah
Saat duduk di kelas 3 dia dikeluarkan dari sekolah, dan pindah ke sekolah yang lain. Ketika mau masuk SMP, dia ditolak 6 sekolah, dan akhirnya masuk sekolah yang terjelek. Di sekolah yang begitu banyak orang bodohnya dan tidak diterima di sekolah yang baik itu, Adam Khoo termasuk yang paling bodoh. Di antara 160 murid seangkatan, Adam Khoo menduduki peringkat 10 terbawah.
Orangtuanya panik dan menirim dia ke banyak les, tapi hal itu tidak menolong sama sekali. Di sebuah sekolah dengan nilai 0-100, rata-rata nilainya adalah 40. Bahkan guru matematikanya pernah mengundang ibunya dan bertanya, “Kenapa di SMP kelas 1, Adam Khoo tidak bisa mengerjakan soal kelas 4 SD?”
Pada umur 13 tahun, Adam Khoo dikirim ke Super-Teen Program yang diajari oleh Ernest Wong, yang menggunakan teknologi Accelerated Learning, Neuro Linguistic Programming (NLP) dan Whole Brain Learning. Sejak saat itu keyakinan Adam Khoo berubah. Ia yakin bahwa dia bisa. Ditunjukkan oleh Ernest Wong bahwa semua orang bisa menjadi genius dan menjadi pemimpin walaupun awalnya goblok sekalipun. Dikatakan oleh Ernest Wong , “Satu-satunya hal yang bisa menghalangi kita adalah keyakinan yang salah serta sikap yang negative.” Kata-kata ini mempengaruhi Adam Khoo. Dia akhirnya memiliki keyakinan bahwa kalau ada orang yang bisa mendapatkan nilai A, dia juga bisa. Selama ini Adam Khoo bodoh, karena dia masih muda, naïf, dan menerima sepenuh hati kata-kata orang lain yang negative.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya Adam Khoo berani menentukan target-nya, yaitu mendapatkan nilai A semua. Dia menentukan goal jangka pendeknya, yaitu masuk Vitoria Junior College (SMA terbaik di Singapura), tujuan jangka panjangnya masuk National University of Singapore dan menjadi murid terbaik disana.
Ketika kembali ke sekolah, Adam Khoo langsung take action dengan menempel kata-kata motivasional yang dia gambar sendiri dan belajar menggunakan cara belajar yang benar (yang selama ini tidak diajarkan di sekolah manapun), menggunakan teknik membaca cepat, cara mencatat menggunakan kedua belah otak, dan menggunakan teknik super memori, dan ketika Adam Khoo ditanyai oleh gurunya, dia bisa menjawab dengan tepat.
Ketika teman-teman dan gurunya bertanya apa yang akan dia raih, dijawab oleh Adam Khoo bahwa dia akan menjadi ranking No.1 di sekolahnya, masuk Victoria Junior College dan National University of Singapore. Semua orang menertawakannya, karena tidak pernah terjadi dalam sejarah bahwa lulusan SMP tersebut masuk Victoria Junior College dan National University of Singapore. Bukannya jadi loyo karena di tertawakan, Adam Khoo malah semakin tertantang untuk semakin bekerja dengan cerdas dan keras untuk mencapai impian dan mengubah sejarah.
Dalam waktu 3 bulan rata-rata nilainya naik menjadi 70. Dalam satu tahun, dari ranking terbawah dia menduduki ranking 18. dan ketika lulus SMP, dia menduduki ranking 1 dengan Nilai Ebtanas Murni A semua untuk 6 mata pelajaran yang diuji. Dia kemudian diterima di Victoria Junior College dan mendapatkan nilai A bulat untuk tiga mata pelajaran favoritnya. Akhirnya dia diterima di National University of Singapore (NUS) dan karena di universitas itu dia setiap tahun menjadi juara, akhirnya Adam Khoo dimasukkan ke NUS Talent Development Program. Program ini diberikan khusus kepada TOP 10 mahasiswa yang dianggap jenius.
Bagaimana seorang yang tadinya dianggap bodoh, agak tebelakang, dan tidak punya harapan, serta menduduki ranking terendah di kelasnya bisa berubah, menjadi juara kelas dan dianggap genius? Nah, Anda sudah tahu apa yang dikatakan oleh Ernest Wong, “Yang menghambat kita adalah keyakinan yang salah dan sikap yang negative”. Kesuksesan Adam Khoo pertama datang dari perubahan keyakinan yang salah menjadi keyakinan yang tepat (dari keyakinannya “Saya bodoh, lulus saja susah” menjadi “Kalau orang lain bisa mendapatkan A, saya juga bisa!”)
Kunci suksesnya yang kedua adakah bahwa dia mempunyai tujuan yang mantap (“Nilai saya harus A semua, juara 1, masuk Victoria Junior College, masuk NUS dan menjadi terbaik disana”)
Kunci suksesnya yang ketiga ialah bahwa dia mempunyai alasan yang sangat kuat. Dia bahkan mengucapkan public commitment di depan taman-teman, bicara di depan kelas dan ditertawakan. Akibatnya, kalau tidak dapat nilai A, dia akan malu luar biasa; sedangkan bila mendapat nilai A, dia akan bangga luar biasa.
Kunci suksenya yang keempat adalah bahwa dia mempunyai starategi yang tepat untuk belajar. Dia menggunaka teknik membaca cepat, cara mencatat menggunakan kedua belah otak, dan menggunakan kedua belah otak, dan menggunakan teknik super memori.

berikut Video mengenai Adam Khoo :

Sumber artikel : andiazhari.com

Like!

Exit Anda Suka? Klik Like !! www.facebook.com/putraz354 Thanks for Visit my blog